Masuk

Ingat Saya

Tarsius Satwa Nokturnal Yang Tak Miliki Tapitum Lucidum.

Hewan nokturnal umumnya memiliki tapitum lucidum, organ penyerap cahaya dalam mata agar dapat melihat lebih terang dalam gelapnya malam. Tarsius tak memilikinya.

Ada yang menarik dari Tarsius tarsier, primata nokturnal endemik Sulawesi ini ternyata tidak memiliki organ penambah penyerapan cahaya di mata.
Padahal organ penting ini sangat umum dimiliki makhluk yang aktif di waktu malam. Organ penting ini adalah tapitum lucidum, sebuah lapisan tipis di dalam mata. Lapisan ini merefleksikan cahaya yang masuk melalui retina sehingga memperjelas penglihatan meskipun dalam suasana gelap malam.
“Anehnya, Tarsius yang aktif pada malam hari tidak mempunyai organ yang mendukung aktivitas dalam gelap,” kata Panji Ahmad Fauzan, staf biodiversitas Burung Indonesia.
Untuk mengetahui adanya organ ini, bisa disaksikan pada mata hewan yang terlihat memancarkan sinar saat malam hari seperti mata kucing.
Makhluk malam dengan tapitum lucidum ini bisa bergerak bebas dengan cahaya minim.
Tarsius merupakan primata crespuscular, satwa yang aktif bersuara pada pagi dan sore hari. Ia hidup dalam hutan primer maupun sekunder. Bahkan tidak jarang ditemukan hidup di kebun-kebun masyarakat yang berdekatan dengan kawasan hutan.
“Tarsius habitatnya bisa bersebelahan dengan pemukiman manusia, ia memakan serangga, cicak dan kadal kecil,” ungkap Panji Ahmad Fauzan.
Sebagai satwa yang beranak, tarsius betina biasa disaksikan menggenadong anaknya di bagian belakang tubuhnya.
Panji Ahmad Fauzan selama melakukan observasi hanya menemukan tarsius dengan satu anak, kemungkinan memiliki anak lebih dari satu sangat kecil.
“Masih perlu penelitan lebih lanjut untuk mengetahui berbiaknya primata mungil ini,” ujar Panji.
Yang unik, jika tarsius ini merasa terancam sehingga harus bergegas pindah, anaknya tidak diletakkan di bagian belakang tubuhnya. Ia membawa anaknya dengan menggunakan mulutnya seperti halnya kucing memindahkan anaknya.
Sebagai hewan yang aktif pada malam hari, membuat satwa ini kurang mendapat perhatian masyarakat. Bahkan di Gorontalo, suara tarsius ini sangat ditakuti masyarakat. Suaranya dihubungkan dengan keberadaan hantu yang menakutkan.
“Tarsius merupakan karnivora sejati, seperti ular,” jelas Panji.
Setiap kelompok memiliki wilayah yang dipertahankan. Mereka menandai wilayah dengan urin yang sangat berbau agar kelompok lain tidak memasuki wilayahnya.
Selain itu, setiap senja atau menjelang pagi, mereka menegaskan wilayahnya dengan suara khasnya. Lengkingan sahut-menyahut suaranya bisa didengarkan saat gelap mulai lenyap, menjelang pagi.
Yang menariknya lagi, tarsius merupakan penganut poligini atau cooperative breeder, anak-anak tarsius dirawat bukan hanya oleh induknya. Individu lain dalam kelompoknya turut menjaga dan merawat bayi tarsius yang mungil.
Keberadaan tarsius di Gorontalo mudah dijumpai di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone
“Tarsius dan kelompoknya banyak ditemukan di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, banyak membuat sarang di batang rotan muda,” kata Idham Ali, fotografer satwa liar.
Idham Ali menjelaskan satwa ini dketahui bersarang saat memiliki anak, diperkirakan pada jarak tertentu terdapat sarang dalam satu kawasan teritori.
Pengenalan dan pelestarian tarsius merupakan upaya yang harus didukung, bukan hanya satwanya namun juga habitat tempatnya mengembangkan kehidupan. Hal ini disampaikan oleh Iwan Hunowu, Sulawesi Program Manager, Wildlife Conservation Society– Indonesia Program (WCS-IP).