Masuk

Ingat Saya

Kiyai Ghofir Nawawi, Guru Penjaga Kebinekaan Indonesia

Dari pojok sekolah, KH Abdul Ghofir Nawawi yang memakai tongkat kayu mengamati ratusan siswanya yang berbaris. Ada kebanggaan dalam dirinya sebagai guru yang merintis sekolah ini.
Pria sepuh asal Cirebon ini kemudian berkeliling melihat fasilitas sekolah. Sesekali tersenyum menyapa ramah para petani transmigran asal berbagi daerah yang melintas.
Abdul Ghofir Nawawi adalah perintis berdirinya kompleks sekolah dan pondok pesantren Salafiyah Syafiiyah di Desa Banuroja, Kecamatan Randangan, Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo. Daerah ini jauh dari pusat kota.
Semua itu berawal pada 1976 ketika Abdul Ghofir muda datang ke Kota Gorontalo. Ia adalah santri dari Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur.
Karena di Kota Gorontalo dianggap bukan daerah yang menantang, akhirnya ia membulatkan tekad berbaur dengan para transmigran asal berbagai daerah yang baru datang di Desa Manunggal Karya. Desa ini berbatasan dengan hutan, sebelum dimekarkan dengan Banuroja.
“Kondisi transmigran sangat memprihatinkan. Banyak yang buta huruf dan komunikasi antarmasyarakat tidak berjalan baik karena mereka menggunakan bahasa daerah masing-masing. Kemampuan bahasa Indonesia sangat terbatas,” kata Abdul Ghofir, Kamis (24/11/2016).
Sejak melihat kondisi para transmigran pertama kali, Abdul Ghofir berinisiatif untuk membuat sekolah. Bagi dia, panggilan untuk menjadi guru tidak bisa ditunda.
Ia harus mendidik anak-anak agar berilmu dan mampu memecahkan kesulitan hidup yang dialami orangtua mereka.
Segera saja ia mengumpulkan anak-anak, ada 20 orang, dan dia bina dalam bangunan sederhana.
“Jangankan mikir pendidikan, mikir mau makan apa hari ini saja susah,” kenangnya membayangkan masa lalu yang sangat sulit.
Pada musim kemarau panjang, para transmigran dari berbagai daerah ini sudah tidak memiliki persediaan beras atau bahan makanan lainnya di rumah. Ini menjadi masalah bersama seluruh warga desa. Mereka didera kelaparan.
Abdul Ghofir kemudian mengajak kaum pria menuju hutan tak jauh dari desa. Mereka mencari bitule atau gadung untuk dimakan.
Umbi beracun itu dikumpulkan sebanyak mungkin, diiris, lalu dijemur. Bitule kering ini akan menjadi persediaan makanan keluarga sambil terus mengumpulkan bitule dari hutan.
Di tengah keragaman agama dan suku, ia mendapat pesan dari gurunya agar mendidik saja anak-anak di desa ini, tidak perlu mengislamkan umat agama lain.
Ia ingat pesan sang guru agar jangan berkelahi antarumat beragama dan terus berjuang memperbaiki kesejahteraan masyarakat.
“Sambil mendidik anak-anaknya, kami juga mengajak para transmigran yang beragama lain untuk membicarakan cara mengatasi masalah hidup. Waktu itu tanah tidak dapat ditanami, kami hampir saja putus asa dan pulang ke daerah masing-masing,” kata dia.
Abdul Ghofir tidak menyerah. Ia terus membujuk warga untuk bersikap optimistis. Ia bahkan berjanji untuk menyiapkan anak-anak mereka dalam pendidikan.
Hambatan justru datang dari sebagian umat Islam. Mereka mengacungkan celurit saat Abdul Ghofir melakukan komunikasi.
“Kami tidak butuh nasihat, yang kami butuhkan makanan,” kata dia menirukan orang yang menentangnya.
Dari bangunan sederhana, ia merintis pendidikan melalui pesantren. Setiap hari anak-anak transmigran yang terlihat kurus datang mengaji. Awalnya ada 20 anak, lalu berkembang menjadi 30 siswa. Mereka tekun mengaji.
Setelah rasa perlu membuka sekolah formal, Abdul Ghofir membangun gedung baru di tengah berbagai macam kendala. Di gedung ini diselenggarakan proses pendidikan madrasah ibtidaiyah. Anak-anak makin banyak yang menyukainya dan banyak transmigran yang menaruh pengharapan pendidikan pada upaya Abdul Ghofir.
Sekolah formal pun berjalan, tenaga mencari pendidik yang ia rekrut dan biayai sendiri. Perjuangan ini terus berjalan hingga kini.
“Saya ikhlas mendidik anak-anak transmigran, tidak perlu bantuan pemerintah, seluruhnya saya usaha sendiri pendanaannya,” ujarnya.
Seiring perjalanan waktu, pondok pesantren dan sekolah formal makin berkembang. Di kompleks tersebut, ada bangunan pendidikan anak usia dini, madrasah ibtidaiyah (SD), madrasah tsanawiyah (SMP), madrasah aliyah (SMA), SMK peternakan, serta pendok pesantren.
Siswa dan santrinya tidak hanya anak transmigran. Murid yang sekolah di sini juga berasal dari Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Selatan. Semua santrinya ada 400 orang, jika ditambahkan dengan siswa sekolah, jumlahnya 800-an orang.
Yang bersekolah di sana tidak hanya siswa beragama Islam. Ada juga siswa yang beragama Hindu dan Kristen.
“Ada pilihan sekolah lain, tapi mereka memilih untuk menyekolahkan anaknya di sini. Ini adalah buah kepercayaan dan saling pengertian yang kami rintis puluhan tahun lalu,” kata Abdul Ghofir.
M Indraditya DanishwaraSekolah rintisan yang didirikan oleh KH Abdul Ghofir Nawawi di daerah transmigrasi. Ia membiayai sekolah PAUD, Madrasah Ibtidaiyah (SD), Madrasah Tsanawiyah (SMP), Madrasah Aliyah (SMA) dan SMK Peternakan. Ia berhasil menjaga kemajemukan agama dan etnis di lingkungannya
Kepada guru yang mengajar di sekolahnya, Abdul Ghofir berpesan bahwa tugas guru itu hanya mengajar sesuai dengan kurikulum.
Guru diminta tidak menceritakan macam-macam yang mendatangkan konflik kepada anak-anak. Biarkan anak-anak tumbuh dan berkembang untuk memahami perbedaan keyakinan dan dapat menyelesaikan masalahnya.
Tidak semua upaya berjalan mulus, banyak kendala yang dihadapinya. Yang paling mendera adalah kelangkaan air bersih. Ini masalah sejak awal berdirinya desa.
Sekolah dan masyarakat harus menghemat air. Tidak ada sumber air yang bisa didapat di desa. Pernah dibor hingga kedalaman 10-20 meter, tetapi tidak ada air. Bahkan pernah mencapai 200 meter pun tidak ada air.
Sekolah ini akhirnya memanfaatkan sungai yang jauh untuk menjadi pemasok air. Sumur di tepi sungai disedot menggunakan mesin dalam penampungan. Dari penampungan ini, air disedot lagi untuk dialirkan ke sekolah dan warga sekitar.
“Musim kemarau lalu kami terpaksa membeli air dari luar seharga lebih dari Rp 50 juta. Ada juga pasokan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Pohuwato,” kata Abdul Ghofir.
Bagi banyak orang, kata Banuroja merupakan akronim dari Bali, Nusa Tenggara, Gorontalo dan Jawa, sesuai asal penduduk yang mendiaminya. Namun, bagi Abdul Ghofir, Banuroja itu berasal dari bahasa Arab, yakni banu dan roja. Banu atau bani berarti keluarga atau generasi dan roja berarti optimistis. Mereka yang tinggal di sini adalah generasi yang optimistis menatap masa depan.
Sebagai guru, Abdul Ghofir tidak berhenti sampai di sini. Ia masih punya keinginan untuk mendirikan perguruan tinggi dengan tetap membawa keberagaman suku dan agama. Ia ingin Islam sebagai agama rahmatan lil’alamin dapat dinikmati semua umat.
Ia berpendapat bahwa Indonesia adalah rumah bagi semua umat dan suku, tidak seharusnya saling bermusuhan.
Umat Islam yang besar seharusnya menjadi teladan dan mengayomi umat lain. Berlomba-lomba dalam kebaikan, membangun peradaban mulia yang bermanfaat bagi semua umat.
Menyinggung kegaduhan yang tengah terjadi di Jakarta, ia mengatakan sudah menduga akan ribut karena isu agama yang dimainkan oleh politisi dan muslim radikal.
“Belajar Islam itu harus kaffah (sempurna), jangan sepotong-sepotong. Kalau belajarnya nanggung, akibatnya seperti ini,” kata Abdul Ghofir.
Ia mengatakan, peran Wali Songo itu luar biasa dalam menjaga kemajemukan Nusantara. Sebagai penyebar Islam, mereka tidak pernah memusuhi agama atau golongan lain. Bahkan para wali ini menanamkan semangat keberagaman, hidup rukun sesama antar umat beragama.
“Jika tidak ada Wali Songo, Indonesia tidak seperti ini. Mari kita rawat warisan keberagaman ini dengan saling pengertian dan tidak saling memusuhi,” ajaknya.
Di tengah keragaman agama dan suku, ia mendapat pesan dari gurunya agar mendidik saja anak-anak di desa ini, tidak perlu mengislamkan umat agama lain.
Ia ingat pesan sang guru agar jangan berkelahi antarumat beragama dan terus berjuang memperbaiki kesejahteraan masyarakat.
“Sambil mendidik anak-anaknya, kami juga mengajak para transmigran yang beragama lain untuk membicarakan cara mengatasi masalah hidup. Waktu itu tanah tidak dapat ditanami, kami hampir saja putus asa dan pulang ke daerah masing-masing,” kata dia.
Abdul Ghofir tidak menyerah. Ia terus membujuk warga untuk bersikap optimistis. Ia bahkan berjanji untuk menyiapkan anak-anak mereka dalam pendidikan.
Hambatan justru datang dari sebagian umat Islam. Mereka mengacungkan celurit saat Abdul Ghofir melakukan komunikasi.
“Kami tidak butuh nasihat, yang kami butuhkan makanan,” kata dia menirukan orang yang menentangnya.
Dari bangunan sederhana, ia merintis pendidikan melalui pesantren. Setiap hari anak-anak transmigran yang terlihat kurus datang mengaji. Awalnya ada 20 anak, lalu berkembang menjadi 30 siswa. Mereka tekun mengaji.
Setelah rasa perlu membuka sekolah formal, Abdul Ghofir membangun gedung baru di tengah berbagai macam kendala. Di gedung ini diselenggarakan proses pendidikan madrasah ibtidaiyah. Anak-anak makin banyak yang menyukainya dan banyak transmigran yang menaruh pengharapan pendidikan pada upaya Abdul Ghofir.
Sekolah formal pun berjalan, tenaga mencari pendidik yang ia rekrut dan biayai sendiri. Perjuangan ini terus berjalan hingga kini.
“Saya ikhlas mendidik anak-anak transmigran, tidak perlu bantuan pemerintah, seluruhnya saya usaha sendiri pendanaannya,” ujarnya.
Seiring perjalanan waktu, pondok pesantren dan sekolah formal makin berkembang. Di kompleks tersebut, ada bangunan pendidikan anak usia dini, madrasah ibtidaiyah (SD), madrasah tsanawiyah (SMP), madrasah aliyah (SMA), SMK peternakan, serta pendok pesantren.
Siswa dan santrinya tidak hanya anak transmigran. Murid yang sekolah di sini juga berasal dari Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Selatan. Semua santrinya ada 400 orang, jika ditambahkan dengan siswa sekolah, jumlahnya 800-an orang.
Yang bersekolah di sana tidak hanya siswa beragama Islam. Ada juga siswa yang beragama Hindu dan Kristen.
“Ada pilihan sekolah lain, tapi mereka memilih untuk menyekolahkan anaknya di sini. Ini adalah buah kepercayaan dan saling pengertian yang kami rintis puluhan tahun lalu,” kata Abdul Ghofir.
Kepada guru yang mengajar di sekolahnya, Abdul Ghofir berpesan bahwa tugas guru itu hanya mengajar sesuai dengan kurikulum.
Guru diminta tidak menceritakan macam-macam yang mendatangkan konflik kepada anak-anak. Biarkan anak-anak tumbuh dan berkembang untuk memahami perbedaan keyakinan dan dapat menyelesaikan masalahnya.
Tidak semua upaya berjalan mulus, banyak kendala yang dihadapinya. Yang paling mendera adalah kelangkaan air bersih. Ini masalah sejak awal berdirinya desa.
Sekolah dan masyarakat harus menghemat air. Tidak ada sumber air yang bisa didapat di desa. Pernah dibor hingga kedalaman 10-20 meter, tetapi tidak ada air. Bahkan pernah mencapai 200 meter pun tidak ada air.
Sekolah ini akhirnya memanfaatkan sungai yang jauh untuk menjadi pemasok air. Sumur di tepi sungai disedot menggunakan mesin dalam penampungan. Dari penampungan ini, air disedot lagi untuk dialirkan ke sekolah dan warga sekitar.
“Musim kemarau lalu kami terpaksa membeli air dari luar seharga lebih dari Rp 50 juta. Ada juga pasokan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Pohuwato,” kata Abdul Ghofir.
Bagi banyak orang, kata Banuroja merupakan akronim dari Bali, Nusa Tenggara, Gorontalo dan Jawa, sesuai asal penduduk yang mendiaminya. Namun, bagi Abdul Ghofir, Banuroja itu berasal dari bahasa Arab, yakni banu dan roja. Banu atau bani berarti keluarga atau generasi dan roja berarti optimistis. Mereka yang tinggal di sini adalah generasi yang optimistis menatap masa depan.
Sebagai guru, Abdul Ghofir tidak berhenti sampai di sini. Ia masih punya keinginan untuk mendirikan perguruan tinggi dengan tetap membawa keberagaman suku dan agama. Ia ingin Islam sebagai agama rahmatan lil’alamin dapat dinikmati semua umat.
Ia berpendapat bahwa Indonesia adalah rumah bagi semua umat dan suku, tidak seharusnya saling bermusuhan.
Umat Islam yang besar seharusnya menjadi teladan dan mengayomi umat lain. Berlomba-lomba dalam kebaikan, membangun peradaban mulia yang bermanfaat bagi semua umat.
Menyinggung kegaduhan yang tengah terjadi di Jakarta, ia mengatakan sudah menduga akan ribut karena isu agama yang dimainkan oleh politisi dan muslim radikal.
“Belajar Islam itu harus kaffah (sempurna), jangan sepotong-sepotong. Kalau belajarnya nanggung, akibatnya seperti ini,” kata Abdul Ghofir.
Ia mengatakan, peran Wali Songo itu luar biasa dalam menjaga kemajemukan Nusantara. Sebagai penyebar Islam, mereka tidak pernah memusuhi agama atau golongan lain. Bahkan para wali ini menanamkan semangat keberagaman, hidup rukun sesama antar umat beragama.
“Jika tidak ada Wali Songo, Indonesia tidak seperti ini. Mari kita rawat warisan keberagaman ini dengan saling pengertian dan tidak saling memusuhi,” ajaknya.

Dimuat di kompas.com : http://regional.kompas.com/read/2016/11/25/07502601/abdul.ghofir.nawawi.guru.penjaga.kebinekaan.indonesia?page=1